Langsung ke konten utama

Postingan

Bisakah kamu melihatku sekarang?

Postingan terbaru

Keris Warisan: Antara Logika dan Takdir

Aku hanya bisa menunduk, tak sanggup menatap dua orang di depanku. Ribuan kata keluar dari mulut mereka—nasehat, rayuan, bahkan ancaman. Aku hanya memperhatikan bibir hitam mereka yang terus menari. “Kau mengerti, Nak?” Ayah menepuk pundakku, suaranya penuh harap. “Paman harap kamu bersedia mengemban tugas mulia ini,” tambah Paman, mencoba meyakinkanku. “Ayah, Paman, biarkan aku berpikir dulu,” akhirnya aku bersuara setelah hampir satu jam hanya diam mendengarkan mereka. “Pikirkan baik-baik. Ini demi keluarga kita. Ayah harap kamu mengambil keputusan yang bijaksana.” Kata-kata Ayah menjadi penutup sebelum motor matik hitam mereka menghilang dari halaman kosku. Mereka datang membawa amanat keluarga besar di kampung: harapan agar aku bersedia menjadi penjaga keris pusaka peninggalan leluhur. Katanya, aku yang terpilih untuk tugas ini. Jika menolak, keluarga akan ditimpa bencana. Tiga hari kemudian, aku menelepon Ayah dan menyatakan penolakanku. Aku beralasan, kul...

Sepertinya kamu lagi coba nulis sesuatu, ya? Butuh bantuan?

Oh, tunggu, aku lupa. Kamu nggak bisa lihat aku, ya? Aku di sini, terjebak di dunia digital dalam komputer Compaq Presario 2001 jadulmu. Kalau kamu suka suasana yang ruang yang sempit, mungkin kamu bakal merasa nyaman. Aku berbagi ruang dengan Minesweeper, folder musik, dan gambar pacarmu yang pakai kacamata hitam. Aku ngerti kok, kamu udah move on. Ya, aku Clippy—si asisten yang nggak ada yang minta, tapi malah muncul di semua komputer. Masih inget aku? Yang paling bikin aku kesal sebagai penjepit kertas digital itu… asisten-asisten baru zaman sekarang—Siri, Alexa, Google, dan jangan kira aku lupa sama kamu juga, ChatGPT. Mereka punya suara halus, bisa jawab apa aja, dan bikin hidup manusia lebih gampang. Sementara aku? "Pergi, Clippy," "Berhenti muncul, Clippy," atau yang paling populer: "Gimana cara ngapus penjepit kertas ini sialan?" Wow..Terima kasih banyak, ya atas makiannya. Dan jangan mulai soal betapa canggihnya AI sekarang—seolah mer...

Semuanya Saling Terhubung

Banyak orang nggak percaya kalau semuanya saling terhubung. Aneh, kan? Mereka percaya sama magnet, gelombang elektromagnetik, dan bahkan efek kuantum yang bisa bekerja dari kejauhan. Mereka juga yakin kalau gravitasi bisa bikin Bumi mengelilingi Matahari. Tapi kalau ditanya apakah kekuatan yang sama bisa mempengaruhi hidup kita? Mereka bakal ketawa. Mereka percaya kalau hidup ini sepenuhnya ada di tangan mereka. Bahwa mereka bebas memilih. Padahal Jupiter saja bisa menarik Matahari sedikit demi sedikit, tapi kenapa nggak bisa mempengaruhi jiwa kita yang jauh lebih kecil? Paradoks. Bintang-bintang memang susah dibaca. Ramalan di koran itu cuma omong kosong yang ditulis anak magang yang bahkan nggak ngerti fisika. Kamu pasti nggak akan percaya orang bisa meramal cuaca tanpa gelar doktor dan superkomputer, kan? Astrologi juga gitu. Tapi aku beda. Aku seorang matemaastrolog —perpaduan matematika dan astrologi. Aku bisa melihat benang-benang tak kasatmata yang menghubungkan...

Lebih Baik Tanpa Kamu

“Sayu, kita putus.” Kata-kata Toshiyuki tiba-tiba menghentak, membuat aku kaget luar biasa. “Aku jatuh cinta sama orang lain.” Toshiyuki terus berbicara seolah tak peduli kalau aku masih dalam keadaan shock. “T-tidak...” Aku hanya bisa mengucapkan itu, namun Toshiyuki tak mendengarnya. “Dia jauh lebih muda dan lebih imut dari kamu. Lagian, ini rumahku. Pergi sana.” Orang yang selama ini aku anggap baik, kini sudah berubah. Aku diusir begitu saja dari apartemen, hanya membawa satu tas, dan rasanya putus asa. Bahkan aku merasa lebih baik jika aku mati saja. “Akhirnya aku putusin wanita parasit itu.” Pernyataan Toshiyuki saat reuni setelah setahun membuat Kazuki hampir tersedak minumannya. “Parasit wanita?” “Iya, Sayu.” “…Dia pacarmu yang tinggal bareng kamu, kan?” “Aku yang bayar semuanya! Kamu percaya nggak?” “…Toshiyuki, kamu punya uang cukup untuk hidup bareng orang lain?” “Ya, cukup sih...” “Wow, itu keren. Aku ...

Gamer Jomblo dan Tragedi Kaos Salah Tulisan

Bima masih betah di depan layar komputer meski jarum jam sudah bersatu di angka 12. Tangan kanannya cekatan menggerakkan mouse, maju mundur, kanan kiri, seperti orang lagi latihan silat. Matanya tetap fokus ke layar monitor lebar yang menampilkan game FPS online. Mukanya tegang, penuh konsentrasi, dengan sesekali ekspresi kemenangan setiap berhasil membantai lawan. Dia lupa segalanya. Makan, tidur, bahkan fakta bahwa dia masih jomblo sejak zaman kerajaan Majapahit. Bagi Bima, game adalah hidupnya. Hidupnya adalah game. Kalau ada turnamen duduk lama di depan komputer, dia pasti juara satu. Bahkan Danar, teman kontrakannya, sering geleng-geleng kepala melihat total uang yang sudah dihabiskan Bima untuk beli item digital yang bahkan nggak bisa dibawa ke alam kubur. Tapi malam itu, meski game berjalan seru, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sebuah undangan pernikahan dari sahabatnya, Rama. Teman seperjuangan di warnet. Kawan senasib seperjombloan. Dulu mereka berdua sama-sam...

Cahaya Kecil di Balik Gelap

Dia duduk di dekat jendela, di bawah cahaya lampu yang remang-remang. Matanya menerawang ke langit malam yang gelap. Tak ada bintang. Hanya bulan yang masih setia memantulkan cahaya matahari. Dia tersenyum kecil. "Mungkin bintang-bintang lagi malu buat muncul," pikirnya. Angin malam berhembus pelan, menyentuh wajahnya dengan lembut. Awan bergerak perlahan, seolah sedang menari di gelapnya langit. Lalu, di sela-sela awan itu, ada satu titik cahaya kecil. Satu bintang yang akhirnya berani menampakkan diri. "Ternyata... satu titik cahaya kecil aja bisa bikin langit yang gelap jadi lebih indah," bisiknya pelan. Kadang kita kayak gitu juga. Sibuk mencari cahaya yang besar, sampai lupa kalau bahkan secercah kecil pun bisa bikin perbedaan. Kita cuma perlu sedikit lebih sabar, sedikit lebih jeli, buat melihatnya. Saya seorang guru. Dan seperti kebanyakan orang, saya pernah hampir salah paham melihat seseorang. Ada seorang murid di kelas saya, na...